Kamis, Oktober 7

Indonesia, pendidikan dan pembodohan

Pendidikan adalah sebuah hal yang sangat esensial bagi seluruh manusia yang ada di dunia ini, baik berupa pendidikan non formal yang bisa didapatkan dari mana saja dan dalam bentuk apa saja dan pendidikan non formal, sebuah pendidikan yang bisa kita dapatkan secara Gratis maupun Berbayar. Sebuah bentuk dari perhatian pemerintah untuk mensejah terakan seluruh masyarakat Indonesia yang pada akhirnya memiliki sebuah kesalahan yang bersifat mendasar yang baru-baru ini semakin terlihat dimana letak kesalahannya.


Pendidikan memang lah bukan sesuatu yang mudah untuk diperoleh, bukan hanya tentang Mencari Ilmu dan Mendapatkan ilmu, tapi juga tentang Membayar Ilmu dan Membeli ilmu, sebuah praktek yang sangat sering kita dengar, lihat dan bahkan kita alami sendiri, dan disinilah awal mula permasalahan pendidikan negeri INDONESIA ini bermula, dan mari kita perdalam pembahasan tentang pendidikan Indonesia ini secara seksama, dan memperhatikan sekitar kita siapa tau sudah terjadi dan sudah kita rasakan dampaknya.


Uang, adalah sebuah kata yang menginspirasi banyak orang untuk berusaha, untuk berjuang dan bertahan hidup, dengan cara apapun, dan uang pula lah yang menjadi titik awal keretakan tiang pendidikan Indonesia yang semakin lama semakin membesar, dan membuatnya menjadi sangat rapuh. Memang benar, sekarang Pemerintah mulai memperhatikan pendidikan, dengan segala upaya yang sangat besar, dan terlihat seolah2 mumpuni, akan tetapi, sepertinya tidak ada komunikasi yang baik antara pemerintah yang memikirkan rencana dan para pelaksana dilapangan yang berhadapan langsung dengan para pelajar. Sehingga, walaupun Pemerintah sudah menginstruksikan untuk memberikan kemudahan dalam hal biaya, tetap saja sebagian besar pelaksana melakukan hal yang mempersulit hal tersebut.


Pemerintah memang mulai membebaskan biaya pendidikan atau yang biasa saya sebut BP3. Akan tetapi, bagaimana dengan buku? Buku yang mereka gunakan harus mereka beli sendiri. Sedangkan buku yang mereka beli, harganya tidak tanggung tanggung, itupun jika mereka beli secara langsung ke agen atau ke toko buku, padahal disekolah sekolah yang berada didaerah pedesaan ataupun kota kecil yang sebenarnya berpotensi besar, buku yang dimiliki siswa lebih sering sampai ketangan siswa melalui tangan perantara yang dalam hal ini adalah guru-guru yang mengurusi Koperasi maupun guru yang bersangkutan dengan mapel tersebut. Uang Jasa, itulah yang kadang kadang mereka gunakan untuk menyebut uang keuntungan penjualan buku dari agen ke siswa melalui buku. Ya walaupun tidak dapat dipungkiri, mungkin uang yang mereka peroleh dari keuntungan menjual buku, tidaklah seberapa. Akan tetapi ada baiknya keuntungan yang diambil jangan terlalu besar, demi kebaikan semua pihak.


Bukan kah sudah ada Buku gratis yang bisa diperoleh diinternet? Ya, memang benar, akan tetapi sepertinya jika memang pemerintah ingin melakukan hal semacam itu, seharusnya melakukan secara total, karena buku yang telah dibeli hak ciptanya oleh pemerintah jarang dipakai karena isinya yang kurang sesuai dengan materi pembelajaran. Itu artinya, beli buku yang lain, beli buku lagi, merogoh kocek lebih dalam lagi. Ya, kalau mereka dari keluarga menengah keatas, tapi kalau dari keluarga menengah kebawah? Padahal negeri ini didominasi kaum menengah kebawah yang berjuang mendapat pendidikan untuk meningkatkan kesejahteraan. Jika caranya masih seperti ini, akan lebih banyak lagi anak putus sekolah, dan menambah beban pemerintah dalam hal Masalah sosial yang timbul dikarenakan pendidikan yang kurang.


Buku adalah sebuah pilihan, bukanlah keharusan. Mungkin disini juga terletak kesalahan pemerintah, ketika ada seorang guru yang cukup handal dalam mengajar sehingga ia mengusai apa yang ia ajarkan, bahkan tanpa buku pegangan sekalipun, harus mengorbankan profesionalitas mereka dengan melakukan kerja sampingan untuk memenuhi kebututuhan pokok keluarga mereka yang tak mampu tercukupi dengan uang hasil jerih payahnya mengajar sebagai guru honorer, dan mungkin anda sudah mengetahui tentang keadaan seperti ini. Sehingga ia sedikit banyak lupa tentang apa yang akan ia ajarkan sehingga dengan terpaksa memerlukan buku sebagai alat untuk mempermudahnya menyalurkan ilmu kepada anak didiknya. Seandainya pemerintah lebih memperhatikan orang-orang seperti ini, dan memberinya gaji yang mampu untuk tetap menghidupi keluarganya hanya dengan menjadi guru tanpa harus bekerja sambilan, pasti, akan tercipta sebuah totalitas pengajaran, pengajar yang professional, dan bukannya pengajar yang hanya berangkat sekolah, mengeluarkan buku, member tugas, pulang dan hanya menyampaikan sedikit ilmu, yang kemudian digaji dengan nominal yang cukup besar, apakah itu setara? Apakah itu adil?


Sistem Belajar Aktif, sebuah system belajar yang akhir akhir ini marak diperbincangkan dikalangan pendidikan, yaitu sebuah system yang menjadikan siswa aktif untuk bertanya, berfikir dan kemudian menemukan jawabannya sendiri, dan guru hanya sebagai pembimbing. Akan tetapi, ada sebuah permasalahan yang timbul, seharusnya sistem ini mulai diberlakukan pada tingkat SMA atau sederajat, sedangkan dari tingkat sekolah dasar sampai SMP dan sederajat, masih digunakan sistem belajar yang konvensional. Karena apa? Karena pada tingkat SD dan SMP masih berupa tahap Pembekalan materi yang kemudian dapat mereka kembangkan melalui sistem pembelajaran aktif pada tingkat SMA dan sederajat. Sehingga tujuan utama Pendidikan Indonesia dapat tercapai, yaitu mencerdaskan bangsa guna mempersiapkan Indonesia melawan pergolakan Dunia.


Akan tetapi, yang terjadi didaerah pedesaan atau mungkin dibeberapa daerah dikota besar, mulai sejak SD sudah diterapkan system belajar aktif. Alangkah Sial nasib sebagian anak SD jaman sekarang, karena mereka sudah dipaksa Belajar Aktif tanpa Modal yang diberikan oleh guru mereka. Ibarat Orang yang disuruh memanen HASIL tanpa terlebih dahulu diberi alat panen dan bahkan tidak diberi Tanaman yang akan mereka panen, tanpa diberitau cara merawatnya, tiba tiba dipaksa memanen, lalu, apa yang akan dipanen? Omong Kosong, itulah yang akan dipanen.


Dan mari kita ke contoh Riil yang ada dilapangan, dibeberapa tempat, seorang anak SD kelas 3 diharuskan membuat kesimpulan dari pelajaran yang mereka peroleh sedangkan mereka tidak memperoleh apa apa, karena mereka harus membaca sendiri pelajaran nya dari buku yang mereka beli dengan uang mereka sendiri. Mereka tidak sanggup!! Pada akhirnya anak-anak dipedesaan meminta bantuan kepada orang tuanya untuk mengerjakan tugas yang Gurunya berikan, akan tetapi apa? Orang tua mereka juga tidaklah lebih pintar daripada mereka. Dan memaksa orang tua untuk belajar guna mengerjakan tugas anaknya. Dan apabila para orang tua sudah bisa, mereka kemudian mengajari anak mereka. Kemudian tugas dikumpulkan ke guru, guru mengoreksi, semua murid dianggap sudah bisa, lalu diberikan tugas lain yang serupa, sehingga anak2 hanya sebagai Kurir tugas, dari guru kepada orang tua. Lhoh!!?? Pendidikan ini untuk siapa? Untuk apa? Orang tua kah? Siapa yang menjadi guru? Orang tua kah? Tugas guru apa? Korektorkah? Pengepul buku kah? aTau apa?? Ya, inilah contoh riil yang terdapat dibeberapa tempat yang pernah saya temui, saya harap hal seperti ini tidaknya terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia.


Sedangkan disudut yang lain, dimana kalangan orang tua yang berduit, mereka memilih untuk memasukkan anak mereka ke bimbingan-bimbingan belajar ternama dikota, bahkan tak jarang, mulai dari TK anak-anak mereka sudah akrab dengan istilah LES atau BIMBINGAN BELAJAR. Hm, mereka mendapatkan ilmu bukan dari sekolahan akan tetapi dari pihak bimbingan belajar, lalu apa gunanya sekolah? Kalau mereka harus pergi les ? kenapa tidak les langsung saja tanpa sekolah, toh tujuannya hanya untuk mendapatkan ilmu kan? Oh iya, Indonesia menuntut adanya IJAZAH dari sekolah, nah, itulah yang menjadi masalah. Indonesia tidak memilih seseorang untuk melakukan sesuatu berdasarkan kemampuan yang mereka miliki akan tetapi berdasar ijazah yang mereka miliki dan uang yang mereka selipkan diamplop wangi yang seolah mengatakan, "terima saya ya? Ini sekedar uang jasa", cih, jasa apa?


Jadi tidaklah sesuatu yang mencengangkan kalau pada suatu saat nanti, akan banyak orang Indonesia yang lulus sekolah tanpa OTAK dan tak punya HATI, tak punya otak untuk berfikir dan berkreasi serta tak punya hati terhadap orang orang yang ada disekitarnya, hanya mementingkan diri sendiri dan meraup rezeki tanpa batas. Orang Indonesia akan menjadi bodoh setelah mereka mendapatkan pendidikan FORMAL, sedangkan mereka sekarang sudah jarang mendapat pendidikan nonformal karena waktu mereka tersita untuk sekolah, mengerjakan tugas dan PR.


Maka, sebenarnya ada beberapa hal yang dapat kita lakukan, atau mungkin yang bisa dilakukan Pejabat berwenang. Pertama, mari kita pikir secara matang2 tentang pendidikan diindonesia, seperti apa aturan yang akan kita terapkan, hal yang mungkin bisa dilakukan antara lain, cara belajarnya diubah, sehingga TK dan SD anak2 mendapatkan BAHAN dan BEKAL pendidikan, kemudian SMP mulai kita berikan ALAT dan memberikan CARA mengolah pendidikan mereka, kemudian, di SMA, biarkan mereka belajar mengolah apa yang mereka miliki, kemudian di Perguruan tinggi, biarkan mereka mengembangkan apa yang mereka miliki, dan baru mereka panen saat mereka berhasil.


Kedua, ada baiknya pemerintah memperhatikan kualitas guru yang mengajar, karena sekarang cukup banyak guru yang hanya sekedar guru, tanpa modal dan kemampuan mengajar, mereka hanya memiliki modal ilmu, itupun juga tak seberapa. Maka, dengan meningkatkan kualitas guru, anak anak didik mereka pun akan meningkat kualitasnya. Kualitas disini yang saya maksudkan bukanlah Ilmu yang dimiliki seorang guru, karena menjadi guru, bukan hanya tentang memiliki ilmu yang tinggi, tapi, tentang bagaimana cara agar apa yang seorang guru miliki dapat tersalur kepada anak didik dan anak didik dapat mengembangkan apa yang telah ia terima kemudian menerapkannya dikehidupan nyata untuk kehidupan. Mengurangi beban karena tak harus ikut les ke mana mana karena mereka sudah paham dari sekolahan. Kemudian menghemat uang untuk membeli buku karena ilmunya sudah disampaikan secara gamblang oleh guru disekolah. Betapa menyenangkannya jika hal tersebut terwujud.


Ketiga, mari kita saling membantu untuk mewujudkan Indonesia yang cerdas, dan bersahaja. Dan semoga Indonesia mampu menjadi Negara yang berada dipuncak dunia dalam segala bidang, dan membuat kita bangga menjadi Indonesia. Salam sejahtera, good luck Indonesia!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar