depan kelas yang kebetulan adalah dosen akuntansi. Seorang dosen yang unik yang sering memiliki pikiran negatif dan tebakan misterius sebelum melakukan sesuatu. Dari daun pintu setelah ku mengetuk pintu yang kebetulan tidak ditutup itu, aku melihat seonggok bangku yang dengan sabar menanti di belakang untuk ku tempati.
37 menit berlalu semenjak detik dimana aku meletakkan bokong-ku di kursi paling belakang sebelah kiri dan aku bosan. Bosan mendengarkan ceramah dari dosen, bosan karena dari awal pengen melihat tulisan yang ada di papan tulis yang terpendar dari sebuah proyektor namun di gagalkan oleh cahaya matahari, dan bosan karena nggak paham-paham juga sama materinya apa. Namun perhatianku tersita, tersita dengan sebuah topik yang sedang diperbincangkan sama bapak dosen.
"Jaman sekarang, i-pad, i-phone, dan yang berlayar sentuh lain sudah marak, tapi, berhubung saya itu bukan orang yang ngikutin tren, ya saya nggak punya satupun dari benda itu."
itulah bagaimana ia memulai topik pembicaraannya, dan aku tetap memperhatikannya menyelesaikan kata demi kata yang ia rangkai untuk menyampaikan topik tersebut.
"Masih inget saat bapak mbahas MoCin (motor cina) dulu kan? nah, yang namanya Trade Mark, itu tidak bisa di amortisasi karena pada dasarnya Trade Mark itu ditentukan dengan pencapaian perusahaan yang menghasilkan barang ber Trade Mark tersebut. Beijing, Hokaido, apa lagi? pokoknya motor cina itu, pasti cuma dalam beberapa tahun, pasti ngilang kan? karena apa? Karena cina hanya membeli Teknologinya, dan tidak membeli Trade Marknya."
begitu lanjutnya sembari ia menjelaskan tentang Intangible asset. Dan tangan usilku mulai melakukan tindakan bodoh yang biasnya kulakukan, corat-coret buku.
"Masih inget yang namanya sony? dahulu, barang yang mereknya sony, itu pasti harganya diatas rata rata. Kalau yang lain (baca: merek cina) harganya hanya berkisar Rp. 500.000, dengan adanya Merk Sony, pasti harganya Rp 1.000.000 an lebih. Karena apa? karena sony masih dibuat dari negara pembuatnya, yaitu Jepang. Tapi setelah beberapa waktu, akhirnya cina membeli Trade Mark dari sony, dan kemudian Sony memiliki harga yang sama dengan merek cina lainnya. dan jika orang disuruh memilih, pasti orang juga akan memilih sony ketimbang merek cina. Padahal barangnya sama sama kualitas cina, karena dibuatnya juga di Cina."
Begitulah bapak dosen bercerita dengan bersemangatnya dan tak memperdulikan waktu yang terbuang dengan ceritanya yang sepertinya terlalu panjang. setelah aku anggap ceritanya selesai, ternyata ia masih melanjutkan,
"Coba kalau nggak ada merek cina, pasti Nokia, Samsung dan beberapa produsen awal dari sejak bermulanya produk Cina berkembang masih berharga diatas rata-rata. namun dengan munculnya merek cina, harganya kembali merakyat dan bahkan banyak yang beralih ke produk cina yang kualitasnya mulai membaik. Dan saya juga berterimakasih dengan produk cina bahkan saya juga terpengaruh untuk membeli satu, karena saya punya hape nexian."
Dan beberapa anak yang memiliki hape dengan harga diatas rata-rata berseringai seakan menghujam merek cina tersebut. Kalo aku, tentu aku tidak berani, karena hape pun aku hanya dipinjami sama seorang teman.
"Kalo saya, sebenarnya hape itu yang penting bisa digunakan untuk telepon dan SMS itu sudah cukup. ngapain beli yang touchscreeen kalo cuma dipake buat SMS dan telepon, fitur-fitur tambahannya tidak ada yang terpakai juga kan?"
"saya tuh jadi inget dulu, pas jaman saya masih muda, tepatnya sebelum ujian STAN di senayan, kan saat itu hape tuh masih mahal-mahalnya, dan saya ingat betul, dulu harganya 12 jutaan dengan sim card-nya masih berharga 2 jutaan. Nah, saat itu ada Bapak-bapak yang merupakan seorang anggota DPR kalo nggak salah, dengan sombongnya memakai telepon di tempat umum, padahal hapenya dulu amsih yang gedhe dengan antene, coba kalo sekarang ada yang pake kaya gituan? pada ketawa semua kan? nah, tiba-tiba hapenya yang dipake itu jatuh... PRAAKKK!!! dan pecah, sungguh tragis nasib hape yang masih mahal mahalnya ditahun '90-an rusak."
Dan itu adalah penutup dari pembahasan Trade mark dan kemudian bapak dosen kembali melanjutkan membahas Good Will, dan sumpah aku sama sekali tidak mengetahui apapun tentang hal itu, seakan tidak ada kenangan darinya, hanya ingat bahwa bapak dosen menulis kata good will dibawah tulisan trade mark dan termasuk bukan salah satu intangible asset yang bisa diamortisasi.
dari cerita diatas, cuma ada satu hal yang ingin kusampaikan, yaitu, bahwa sesuatu barang itu bagi setiap orang memiliki guna dan fungsi sendiri-sendiri, tidak perlu memiliki pesawat jika hanya digunakan untuk menempuh perjalanan dekat maupun hanya antar kota dan provinsi, kecuali kalo kita selalu berpergian antar benua. dan masih ada hubungan dengan Post yang Efektif dan Efisien sebelum ini, maka, dalam melakukan sesuatu, lakukan dengan efektif dan efisien.
37 menit berlalu semenjak detik dimana aku meletakkan bokong-ku di kursi paling belakang sebelah kiri dan aku bosan. Bosan mendengarkan ceramah dari dosen, bosan karena dari awal pengen melihat tulisan yang ada di papan tulis yang terpendar dari sebuah proyektor namun di gagalkan oleh cahaya matahari, dan bosan karena nggak paham-paham juga sama materinya apa. Namun perhatianku tersita, tersita dengan sebuah topik yang sedang diperbincangkan sama bapak dosen.
"Jaman sekarang, i-pad, i-phone, dan yang berlayar sentuh lain sudah marak, tapi, berhubung saya itu bukan orang yang ngikutin tren, ya saya nggak punya satupun dari benda itu."
itulah bagaimana ia memulai topik pembicaraannya, dan aku tetap memperhatikannya menyelesaikan kata demi kata yang ia rangkai untuk menyampaikan topik tersebut.
"Masih inget saat bapak mbahas MoCin (motor cina) dulu kan? nah, yang namanya Trade Mark, itu tidak bisa di amortisasi karena pada dasarnya Trade Mark itu ditentukan dengan pencapaian perusahaan yang menghasilkan barang ber Trade Mark tersebut. Beijing, Hokaido, apa lagi? pokoknya motor cina itu, pasti cuma dalam beberapa tahun, pasti ngilang kan? karena apa? Karena cina hanya membeli Teknologinya, dan tidak membeli Trade Marknya."
begitu lanjutnya sembari ia menjelaskan tentang Intangible asset. Dan tangan usilku mulai melakukan tindakan bodoh yang biasnya kulakukan, corat-coret buku.
"Masih inget yang namanya sony? dahulu, barang yang mereknya sony, itu pasti harganya diatas rata rata. Kalau yang lain (baca: merek cina) harganya hanya berkisar Rp. 500.000, dengan adanya Merk Sony, pasti harganya Rp 1.000.000 an lebih. Karena apa? karena sony masih dibuat dari negara pembuatnya, yaitu Jepang. Tapi setelah beberapa waktu, akhirnya cina membeli Trade Mark dari sony, dan kemudian Sony memiliki harga yang sama dengan merek cina lainnya. dan jika orang disuruh memilih, pasti orang juga akan memilih sony ketimbang merek cina. Padahal barangnya sama sama kualitas cina, karena dibuatnya juga di Cina."
Begitulah bapak dosen bercerita dengan bersemangatnya dan tak memperdulikan waktu yang terbuang dengan ceritanya yang sepertinya terlalu panjang. setelah aku anggap ceritanya selesai, ternyata ia masih melanjutkan,
"Coba kalau nggak ada merek cina, pasti Nokia, Samsung dan beberapa produsen awal dari sejak bermulanya produk Cina berkembang masih berharga diatas rata-rata. namun dengan munculnya merek cina, harganya kembali merakyat dan bahkan banyak yang beralih ke produk cina yang kualitasnya mulai membaik. Dan saya juga berterimakasih dengan produk cina bahkan saya juga terpengaruh untuk membeli satu, karena saya punya hape nexian."
Dan beberapa anak yang memiliki hape dengan harga diatas rata-rata berseringai seakan menghujam merek cina tersebut. Kalo aku, tentu aku tidak berani, karena hape pun aku hanya dipinjami sama seorang teman.
"Kalo saya, sebenarnya hape itu yang penting bisa digunakan untuk telepon dan SMS itu sudah cukup. ngapain beli yang touchscreeen kalo cuma dipake buat SMS dan telepon, fitur-fitur tambahannya tidak ada yang terpakai juga kan?"
"saya tuh jadi inget dulu, pas jaman saya masih muda, tepatnya sebelum ujian STAN di senayan, kan saat itu hape tuh masih mahal-mahalnya, dan saya ingat betul, dulu harganya 12 jutaan dengan sim card-nya masih berharga 2 jutaan. Nah, saat itu ada Bapak-bapak yang merupakan seorang anggota DPR kalo nggak salah, dengan sombongnya memakai telepon di tempat umum, padahal hapenya dulu amsih yang gedhe dengan antene, coba kalo sekarang ada yang pake kaya gituan? pada ketawa semua kan? nah, tiba-tiba hapenya yang dipake itu jatuh... PRAAKKK!!! dan pecah, sungguh tragis nasib hape yang masih mahal mahalnya ditahun '90-an rusak."
Dan itu adalah penutup dari pembahasan Trade mark dan kemudian bapak dosen kembali melanjutkan membahas Good Will, dan sumpah aku sama sekali tidak mengetahui apapun tentang hal itu, seakan tidak ada kenangan darinya, hanya ingat bahwa bapak dosen menulis kata good will dibawah tulisan trade mark dan termasuk bukan salah satu intangible asset yang bisa diamortisasi.
dari cerita diatas, cuma ada satu hal yang ingin kusampaikan, yaitu, bahwa sesuatu barang itu bagi setiap orang memiliki guna dan fungsi sendiri-sendiri, tidak perlu memiliki pesawat jika hanya digunakan untuk menempuh perjalanan dekat maupun hanya antar kota dan provinsi, kecuali kalo kita selalu berpergian antar benua. dan masih ada hubungan dengan Post yang Efektif dan Efisien sebelum ini, maka, dalam melakukan sesuatu, lakukan dengan efektif dan efisien.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar